Senin, 09 Januari 2012 - 18:01:44 WIB
Kulit Manggis Andalan Terkini
Diposting oleh : I Gede T Susanta
Kategori: Info Media - Dibaca: 905 kali

Kulit Manggis Andalan Terkini  

Dunia Eka Gemilang-bukan nama sebenarnya-hanya seluas 1,2 m x 2. Di atas ranjang rumahsakit itu selama enam hari bocah empat tahun itu cuma bisa berbaring nyaris tak sadarkan diri. Tubuhnya dibungkus rompi fiber  supaya tulang belakang tidak banyak bergerak. Maklum, gerakan kecil saja menyebabkan Gemilang kesakitan.

Hasil diagnosis dokter, penyebab sakit itu sel kanker yang menggerogoti tulang belakang. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tak ada lagi yang bisa kami lakukan,” kata dokter kepada ayahanda Gemilang, sebut saja Dedi Suwarno. Dokter menduga sel kanker berasal dari retinoblastoma yang diderita saat Gemilang berusia 2 tahun.

Menurut ahli mata dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof dr Rita Sitorus SpM(K) PhD, retinoblastoma tergolong tumor ganas pada mata yang menyerang bayi dan anak-anak. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 2005, prevalensi kanker mata itu 5,3%. Retinablastoma menduduki peringkat ketiga jenis kanker yang diderita anak setelah leukemia yang mencapai 33,7% dan neuroblastoma 7%.

Metastasis

Rita Sitorus menuturkan retinoblastoma sulit dideteksi dini karena hadir tanpa gejala. Padahal kian cepat kanker terdeteksi, peluang kesembuhan bisa mencapai 80-90%. Gemilang baru terdeteksi menderita kanker mata setelah terlihat titik putih pada kornea. Di dalam gelap titik putih itu tampak berkilau, seperti mata kucing. Titik putih pertanda kanker sudah stadium lanjut.Sel kanker menjalar dari retina ke seluruh bagian mata hingga merusak bagian iris dan kornea mata. Pasien biasanya mengalami kebutaan dan harus segera menjalani operasi pengangkatan mata agar kanker tidak menyebar ke organ lain seperti otak, dilanjutkan dengan kemoterapi dan radiasi.

Menurut Rita Sitorus hingga kini penyebab retinoblastoma belum diketahui dengan pasti. Guru besar di Departemen Kesehatan Mata itu menduga kanker mata pada anak itu akibat faktor keturunan.  Dugaan lain, retinoblastoma akibat akibat infeksi virus dan bakteri.Dedi mematuhi saran dokter agar Gemilang menjalani operasi serta pengobatan dengan kemoterapi dan radiasi. Masa 18 bulan berikutnya merupakan masa-masa berat untuk Gemilang. Bocah itu mesti menjalani 11 kali kemoterapi dan 20 kali radiasi. Pada pertengahan 2011 dokter menghentikan pengobatan karena berdasar pemeriksaan terakhir kanker tak lagi terdeteksi di mata Gemilang.

Sayang sukacita keluarga itu hanya seumur jagung. Usai Idul Fitri 2011 atau 1,5 bulan pascapernyataan bebas kanker, Gemilang mengeluh sakit di bagian punggung. Ternyata sel kanker sudah metastasis alias menyebar ke tulang belakang. Dokter kembali merekomendasikan Gemilang menjalani rawat inap untuk terapi radiasi. Namun, kali ini Dedi menolak. Dokter hanya memberikan obat pereda sakit.Setelah empat hari dirawat inap, kondisi bocah mungil itu makin memburuk. Sekujur tubuhnya tak bisa digerakkan seperti lumpuh. Bicaranya pun meracau dan tidak mengenali orang-orang terkasihnya.

Seorang kerabat yang menjenguk menyarankan Dedi membawa putra kesayangannya ke dokter dan herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir.Kepada Gemilang, dokter alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu memberikan ramuan berupa campuran antara lain ekstrak kulit manggis, tapakdara, dan benalu dalam bentuk kapsul. Gemilang mengonsumsi masing-masing tiga kapsul pada pagi, satu kapsul saat siang, dan tiga kapsul lagi di malam hari. Betapa gembira seluruh keluarga ketika Gemilang mulai bisa menggerakkan tubuh setelah sebulan mengonsumsi.

Saat Trubus menemui di rumah kerabatnya di Jakarta Timur pada pertengahan November 2011, Gemilang tengah asik bercengkerama dan mampu duduk sendiri. Hasil pemeriksaan terakhir di rumahsakit, tulang belakang Gemilang dinyatakan bersih dari sel kanker. Sayangnya Dedi tidak hafal kadar cancer antigen (CA)-penanda  kehadiran sel kanker-terakhir.

Superantioksidan

Paulus, dokter yang 8 tahun bertugas di Afrika, meresepkan kulit manggis untuk pasien kanker karena herbal itu merupakan superantioksidan. Antioksidan tingkat tinggi itu mampu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat gempuran sel kanker serta menangkal radikal bebas penyebab degenerasi sel tubuh.Keampuhan kulit manggis mengatasi sel kanker itu terbukti secara ilmiah.

Hasil penelitian R Yuniasri dan rekan dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, menunjukkan ekstrak kulit manggis dengan konsentrasi 10,896 mg/ml dapat mematikan lebih dari 50% populasi sel kanker payudara T47D.Menurut dosen dan peneliti di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Dr Agung Endro Nugroho MSi Apt, alfamangostin pada kulit manggis berefek sitotoksik dengan menghambat proliferasi (perbanyakan) sel kanker. Senyawa lain, garcinone-E, juga menunjukkan aktivitas sitotoksik meski efek antioksidan kurang. ”Keduanya menghambat proliferasi sel kanker dengan cara mengaktivasi enzim kaspase 3 & 9 yang memicu apoptosis atau program bunuh diri sel kanker,” ujar Agung.

Kekuatan superantioksidan kulit manggis itu berpadu dengan ekstrak daun sirsak untuk menghambat terbentuknya adenosin trifosfat (ATP), sumber energi sel kanker. “Bila pembentukan adenosina trifosfat terhambat, maka pasokan energi sel kanker berkurang sehingga aktivitasnya menurun,” kata Paulus yang meresepkan kulit manggis sejak tiga tahun silam. Kulit buah Garcinia mangostana itu juga ia gunakan untuk mengobati pasien berbagai penyakit degeneratif seperti jantung koroner dan diabetes.

Buktikan sendiri

Penelusuran Trubus banyak dokter meresepkan dan menganjurkan kulit manggis untuk mengatasi berbagai penyakit. Dokter spesialis bedah asal Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darusalam,  dr M Tambah SpB, meresepkan kulit buah tanaman anggota keluarga Cluciaceae itu setelah ia terbebas dari trigliserida tinggi. Setelah rutin mengonsumsi 3 sloki jus kulit manggis (setara 90 ml) 3 kali sehari, kadar trigliserida pria penyuka daging itu turun dari   236  mg/dl menjadi 150 mg/dl. Tambah meresepkan kulit buah kerabat mundu itu kepada para pasien penderita kolesetrol tinggi, diabetes mellitus, dan kanker.

Pada kasus kanker payudara, jus kulit manggis menghambat tumor menjadi ganas (kanker).Dokter Azis Mahyudin MBA MM di Bontang, Kalimantan Timur, batal menjalani operasi pemasangan 3 cincin di pembuluh darah jantung setelah meminum jus manggis. Dua pekan mengonsumsi jus manggis 3 kali sehari masing-masing 2 sloki setara 60 ml Azis mampu bertahan hingga 9 menit berlari di atas treadmill.

Pasien dengan gangguan jantung biasanya hanya mampu bertahan maksimal 7 menit. Kadar kreatin kinase otot jantung (CK-MB)-enzim di otot jantung-turun dari 75-100 µg/ml menjadi 10-25 µg/ml. Kadar normal 5-35 µg/ml.“Kondisi tubuh saya semakin bugar,” tutur dokter berusia 58 tahun yang kini meresepkan kulit manggis untuk mengatasi radang lambung alias gastroatritis serta penyakit akibat gangguan pembuluh darah seperti insomnia, vertigo, dan tekanan darah tinggi.Dokter Anggraini di Jakarta Pusat, semula hanya memberikan jus kulit manggis untuk menjaga kesehatan anggota keluarga. Rasa sakit akibat osteoporosis yang diderita ibundanya (80 tahun) mereda setelah mengonsumsi jus kulit manggis.

Anggraini menyarankan kulit manggis kepada beberapa rekan. Berbagai riset dan studi literatur landasan para dokter untuk meresepkan atau sekadar menyarankan konsumsi kulit manggis kepada pasien. Dokter di Karangasem, Bali, dr AA Harry Wijaya, meresepkan kulit manggis kepada para pasien setelah mengikuti berbagai seminar kedokteran tentang faedah antioksidan dari buah, satunya kulit manggis.

Majemuk

Kini pengobatan dengan herbal oleh para dokter bukan lagi perkara tabu. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.003/Menkes/Per/I/2010 tentang Saintifikasi Dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan, pemerintah membolehkan dokter menggunakan jamu untuk upaya preventif (pencegahan), promotif (membantu penyembuhan), rehabilitatif (pemulihan), dan paliatif (meringankan penderitaan) penyakit.Dokter boleh meresepkan jamu untuk kuratif (pengobatan) bila ada permintaan tertulis dari pasien setelah mendapatkan informasi yang cukup tentang khasiat herbal yang diresepkan.  “Keterlibatan dokter dalam pengobatan herbal sangat membantu penggunaan jamu secara aman,” kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia, dr Hardhi Pranata SpS MARS.

Itulah sebabnya saat ini banyak dokter yang bergabung dalam asosiasi dokter dan pengobat tradisional di tanahair.Para dokter biasanya meresepkan kulit manggis dalam bentuk ramuan. “Kita memiliki budaya minum jamu. Jamu itu tak pernah disajikan tunggal, selalu dalam bentuk ramuan,” kata dr Paulus. Jenis herbal yang digunakan tergantung pada gejala penyakit yang menyertai penyakit utama. Dokter Lindawati di Tanjungpriok, Jakarta Utara, meresepkan kulit manggis berdampingan dengan obat konvensional. “Herbal itu sifatnya membantu mempercepat penyembuhan. Sementara untuk pengobatan tetap tak bisa lepas dari obat konvensional,” ujarnya.

Perpaduan tindakan medis dan herbal terbukti ampuh membantu kondisi kesehatan pasien.Uji klinisDokter Harry menangani pasien diabetes mellitus dengan kadar gula sesuai hasil pengukuran di laboratorium mencapai 1.000 mg/dl. Pada kondisi itu pasien bisa koma. Lima hari mengonsumsi jus kulit manggis, gula darah pasien berangsur turun mendekati ambang normal yakni 200 mg/dl.Para pencandu narkoba yang ditangani  dr Fardinand Rabain terhindar dari komplikasi penyakit setelah mengonsumsi kulit manggis. Berbagai penyakit itu mengancam para pencandu narkotika lantaran daya tahan tubuh anjlok (lihat ilustrasi).“Antioksidan pada kulit manggis dapat meningkatkan daya tahan tubuh pencandu narkoba,” kata mantan dokter ahli narkoba RS Lapas Cipinang kelas I itu. Untuk detoksifikasi racun narkoba, Fardinand meramu kulit manggis bersama herbal lain seperti meniran, temulawak, dan pegagan. Meniran membantu menghalau virus dan bersifat diuretik alias perangsang berkemih. Sementara temulawak membantu melindungi hati.

Faedah itu diperkuat pegagan yang juga ampuh memperbaiki fungsi saraf sehingga berefek penenang.Meski khasiatnya terbukti secara empiris, Anggraini belum meresepkan kulit manggis kepada setiap pasien yang berobat ke kliniknya. “Penelitian kulit manggis belum lengkap. Riset oleh kalangan medis belum ada,” ujarnya. Pendapat serupa dilontarkan ahli kanker di Jakarta, dr Henry Naland SpB (K) Onk. Berbagai pengalaman empiris pasien bukan berarti menjadikan suatu herbal bisa menjadi panasea. “Khasiat untuk setiap penyakit perlu pembuktian secara ilmiah mulai dari uji praklinis hingga uji klinis,” ujarnya. Bila seluruh uji itu berhasil ditempuh, maka herbal pun absah menjadi penyembuh. (Imam Wiguna/Peliput: Andari Titisari, Desi Sayyidati Rahimah, Susirani Kusumaputri, dan Tri Istianingsih)

Sumber : http://www.trubus.online.co.id




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)